Make your own free website on Tripod.com

Halaman ini adalah mirror artikel yang pernah ada pada situs NikeArdilla (dot)net.


rocker juga manusia :))
27 Februari 2005



Nike ArdiLa :



**artikel dibawah ini adalah semasa Nike masih hidup.



"Nike memang bukan penyanyi rock. Nggak tau ya kenapa orang nganggep Nike itu lady rocker. Padahal suara Nike kan nggak pas buat lagu rock! . Begitu sanggahnya ringan, seringan kunyah-an permen karet yang sejak tadi memenuhi mulutnya yang mungil itu.

Nike adalah profil remaja masa kini yang punya kesempatan bagus dalam urusan tarik suara. Berbekal bakat, kemampuan, tampang yang menarik dan kemauan keras. Akhirnya Nike mendapatkan apa yang jadi buah mimpi semasa kecilnya

"Kapan sih Nike mulai menyanyi?"
Nike tersentak sesaat. Maklum dia baru saja "menyimak" tampang cowok yang mirip Tom Cruise yang tiba-tiba nyelonong tepat di sudut pandangnya.

"E,e..., apa? Ooh... wah Nike mah udah suka nyanyi dari kecil," ujarnya dengan cengkok Sunda yang kental. Ingatannya lantas melayang ke beberapa tahun lalu, ketika dia baru saja tiga tahun menghirup udara dunia. Dari sinilah perjalanan "karir" nya dimulai.

Pagi itu, ayam belum lagi berkokok ketika Nike kecil terbangun dari tidurnya Sesaat tubuhnya berkeliat dan punggung tangannya mengucek kedua kelopak matanya yang belum melek benar. Lantas dia turun dari pembaringan dan menghampiri sang Ayah yang masih terlelap.

"Pih.., Papih bangun donk! Fotoin Nike...," rengeknya berkali-kali sambil mengguncang tubuh Ayahnya sampai terbangun.

Dengan mata yang masih berat sang ayah terpaksa meladeni permintaan anaknya .
Lantas diambilnya kamera yang selalu siap pakai itu dan dia coba mematut matut buah hatinya di depan lensa. "jepret! Jepre!"

Nike kecil kelihatan riang dengan berbagai pose karangannya. Dia merasa tidak ubahnya foto model yang sering dia lihat di majalah ibunya. Dicobanya lagi berbagai pose yang lain. Sang Ayah, Eddy Kusnadi yang karyawan PJKA itu pun meluluskan semua permintaan anaknya yang lagi lucu-lucunya itu.

Tidak terasa pagi mulai merambat. Sang anak yang tahu akan jadwal ayahnya yang harus pergi ke kantor kini ganti mencari perhatian lainnya. Dia minta dinaikkan ke atas meja dan mulai lah berdendang dengan lantang. Seisi rumah yang terbangun disuruhnya jadi penonton. Pagi pun jadi meriah.

Begitulah, hampir setiap pagi "jadwal" tetap ini harus ada. Sebelum sang ayah ke kantor, dia harus mau jadi juru potret. Dan seisi rumah harus siap jadi penonton penyanyi cilik yang belum mandi itu. "Waktu itu Nike pengen sekali jadi peragawati, penyanyi, pramugari dan dokter" kenang Nike.

Ternyata, sepuluh tahun kemudian impian itu jadi kenyataan. Beberapa impiannya kini terwujud sudah, jadi penyanyi, foto model malah sekarang lagi giat-giatnya main film. Namanya lantas banyak disebut orang. Kehadirannya sangat ditunggu. Bahkan, tidak sedikit yang jadi korban gara-gara orang ingin melihatnya beraksi di atas panggung. Nike Ardilla.., nama itu kian jadi buah bibir.

Semua itu dia capai lewat tangga yang tidak saja panjang tetapi juga curam *kami belum sempat menghitung anak tangganya . Betapa tidak, sejak kecil dia ditempa lewat disiplin yang ketat dalam latihan, lomba atau cuma buat manggung di acara 17-an di lingkungan rumahnya. Dan sekarang dia harus berhadapan dengan para pedagang seni yang tidak sedikit yang hanya ingin mencari keuntungan dari dia.


TAMBANG EMAS
Bakat ibarat pisau. Kalau pisau banyak di asah makin tajamlah dia. Begitupun bakat. Waktu kedua orang tua Nike tahu akan bakat terpendam anak perempuannnya ini, mereka sengaja mencarikan seorang pelatih. "Nike latihan sama Om Deddy Kantong di rumah pake' gitar gembrung (akustik)," ungkap Nike. Dia pun berani ikut lomba. Sejak kelas 5 SD, dia sudah merasakan serunya diadu dengan teman sebayanya dalam berbagai festival "pop singer" di Bandung. Bahkan, dia pun sempat diadu di tingkat nasional dalam ajang "Lagu Pilihanku". Bagusnya, Nike selalu mendapat nomor di arena lomba ini. Puncaknya, tahun 1987 dia jadi juara I golongan Teruna Festiva Musik Tiga Warna di Bandung.

Urusan centil-centil an yang paling dia suka sejak kecil pun tidak dia tinggalkan. Dia ikut berbagai kontes kemolekan tampang. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Dua tahun lalu dia dinobatkan jadi "Puteri LA", nama sebuah diskotek anak muda Bandung. Lalu, tahun ini pun dia jadi favorit pembaca waktu majalah Gadis bikin ajang Gadis Sampul. "Pokoknya Nike pernah ngerasain jadi foto model lah" ujar Nike. Permen karet yang sejak tadi dia kunyah, dibuangnya ke tong sampah. **udah pait kali ya . Kini, keripik kentang jadi sasaran. "Nike memang paling suka ngemil!"


Para pemandu bakat agaknya mencium tambang emas dalam diri Nike. Setelah mencoba rekaman dalam Bandung Rock Power tahun 1986 (*ada yang punya albumnya gak??), Nike diajak main film "Kasmaran" arahan sutradara Slamet Rahardjo. Di film ini dia bermain dengan Ida Iasha yang saat itu mulai dikenal orang. "Eh Nike ditawarin lagi ikut film "Gadis Foto Model" yah.. ikut lagi deh! ujar pembaca setia serial komik Donal Bebek ini.

Yang membawanya ke tangga puncak dunia tarik suara ialah saat Nike bikin album Seberkas Sinar. Album ini membuat nama Nike berkibar seantero Nusantara. Kasetnya laris manis tanjung timpul. Eh Nike pun menyabet bonus, Super Kijang. "Wah ..., Nike pake' jalan-jalan tiap hari. Sekarang sih Kijangnya udah dijual, abis tabrakan sama kakak Nike sih". **kayak tanda2 gitu yah..

Genjotan kedua setelah di seling main film "Ricky, Nakalnya Anak Muda" bareng Ryan Hidayat ialah album Bintang Kehidupan. Nah, ini dia yang membuatnya mantap di jajaran artis peringkat "atas" di negeri kita. Dia sabet "BASF AWARD" dan keliling Eropa hampir sebulan. Sejak album pertama dulu sampai sekarang, panggilan manggung di berbagai kota setiap minggunya tidak pernah sepi. Ini artinya sama dengan rejeki nomplok. "Honornya dikasih ke Papih, sedikit disisihin buat Nike. Paling sebulan 100 ribu. Papih nggak mau ngasih gede-gede, soalnya Nike boro$ sih" ungkapnya. "Tabungan Nike sekarang paling ada cuma 1 juta!"

Umur se-Nike sekarang memang boleh dibilang belum bisa memegang duit. Bayangkan kalau semua honornya dipegang sendiri, bisa-bisa itu duit cuma numpang lewat. Apalagi geng Nike di sekolahnya sekarang tukang jajan. "Nike suka ngajak makan temen-temen atau ke disko diantar kakak Nike yang cowok," **kak Allan ya??

Dengan segala kesibukannya ini tidak mustahil sekolahnya ikut terganggu. Dia yang sekarang punya cita-cita jadi pengusaha ini tidak jarang harus meninggalkan bangku sekolahnya yang baru beberapa bulan saja dia duduki. Bayangkan, selain urusan manggung yang dia sendiri tentukan tarifnya , juga urusan shooting film yang makan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Maka, yang repot adalah sang Ayah. Dia harus bolak-balik minta ijin kepada sekolah. "Kalau ada ulangan Nike biasanya minta susulan saja. Terus belajarnya sama temen," katanya ringan, seiring ayun langkahnya di penghujung sore yang amat dingin itu. Tubuh yang berbalut jeans lusuh dan sweater penahan tebal itu lantas menghilang diantara antrian menuju pabean bandara Nice.

Jalan Nike masih panjang. Diatas sana banyak awan yang menghadang. Bahkan, mungkin tidak sedikit petir yang siap menghanguskan nya. Tinggal Nike yang harus siaga. Siapkah dia?? **hiks..hiks.. , kenyataannya Nike nggak siap


Artikel sumbangan dari : Melfa Riza, Bukittinggi.
(0812 678 11xx), mhel_moy@yahoo.com

Catatanya Ndu Nana :
Di panggung dia tampak garang, biarpun bersuara tipis. Di cover kasetnya dia kelihatan kenes dan sedikit sexy. Lalu orang bilang "Ini dia satu lagi rocker cewek kita!" Padahal...
"Ah Nike mah bukan rocker a tuh..!"
Lalu mengapa Nike nggak mau dibilang rocker?? Padahal seperti dikutip dari lirik lagu milik Seriouz Band... "rocker juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati..."



Posted by: ndu_nana


//bukan kusesali keadaan, namun kenyataan...//


Foto / Image pendukung, mungkin tidak sepenuhnya ada; dikarenakan adanya keterbasatan space pada server ini.

back...